Program Ketahanan Pangan Desa Tenjolayar Diduga Bermasalah
Ringsatu-Majalengka-Pemerintah Desa (Pemdes) Tenjolayar Kecamatan Cigasong Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat. Tahun 2022 yang lalu telah menganggarkan program ketahanan pangan atau pemberdayaan masyarakat yang bersumber dari dana desa. Dari informasi dan data yang diterima awak media ini dari narasumber terpercaya menyebutkan. Ada sejumlah kegiatan program ketahanan pangan yang telah dilaksanakan oleh Pemdes tenjolayar diantaranya.
Keramba ikan nila dan emas, bantuan bibit ikan mas untuk masyarakat.
Padat Karya Tunai Desa (PKTD) penanaman jagung, program pemberdayaan masyarakat dalam bidang peternakan domba serta pembelian bibit domba Garut betina dan jantan.
Ketika hal tersebut dikonfirmasikan kepada Kuwu (Kades) Tenjolayar Dedi Setiadi (58), Selasa (2/5/2023). Ia mengakui bahwa program tersebut memang ada dan telah dilaksanakan.
Ketika ditanya berapa jumlah rincian anggaran untuk beberapa kegiatan program ketahanan pangan tersebut,Dedi Setiadi mengaku lupa.
“Saya lupa jumlah anggarannya maklum sudah lama, tapi program itukan sudah diperiksa Inspektorat. Dan tidak ada masalah apa-apa, jika ingin tahu anggarannya ya silahkan tanya ke Inspektorat saja.” Ujar kuwu Tenjolayar ini.
Saat ditanyakan dimana saja titik lokasi pelaksanaan program ketahanan pangan tersebut. Dedi pun menerangankan bahwa untuk keramba ikan nila dan emas ada diembung yang ada didesanya.
Begitupula diprogram peternakan domba juga lokasinya dekat dengan embung. Sedangan untuk PKTD penamanan jagung kata Dedi dilaksanakan dilahan milik desa yakni diblok Langensari.
Ketika terus didesak dan ditanya terkait sejumlah program ketahanan pangan yang telah dilaksanakan oleh Pemdes Tenjolayar.
Dedi Setiadi sempat sedikit sewot kepada awak media yang terus menanyakan tentang program ketahanan pangan tersebut.
“Untuk apa sih nanya-nanya terus begitu, saya ingin tenang.” Ucapnya sambil permisi dan berlalu dengan menggunakan sepeda motornya.
Sementara itu,menurut Kasi Perencanaan desa Tenjolayar, Gana mengatakan.
Bahwa anggaran untuk keramba ikan nila dan emas yakni sekitar Rp. 17 jutaan.
Dan anggaran untuk bibit ikan emas yakni sekitar Rp.17 jutaan. Sedangkan anggaran untuk PKTD penanaman jagung yakni Rp.52 juta. Dan anggaran untuk kegiatan ternak domba bekisar Rp.120 jutaan.
“Anggaran untuk kandang domba sekitar Rp.60 juta sedangkan untuk pembelian bibit domba sekitar Rp.59 juta. Pembelian bibit domba betina 11 ekor dan jantan 11 ekor dari 11 ekor itu ada yang agak besarnya. Untuk pamaceuk (penjantan), tapi yang lebih tahu yakni pak ambang Mamad Saripudin yang sekarang ikut nyalon kuwu.” Beber Kasi Perencanaan desa Tenjolayar ini.
Dikatakan Gana, harga perekor domba yang telah dibeli oleh pihak desa tersebut yakni Rp.1,5 juta perekornya. “Dari jumlah 22 domba itu 7 diantaranya ada yang mati.”Ucap Gana
Saat ditanya kelompok mana yang dapat bantuan bibit ikan emas tersebut. Gana menyebutkan salah satu kelompok yang dapat bantuan bibit ikan adalah kelompok Fajar Hawa. Yang diketuai oleh Esih Nuraesih di RT. 09 RW. 04 blok Pajaten.
Gana pun meluruskan bahwa bantuan bibit ikan yang diberikan kepada kelompok tersebut bukanlah ikan emas namun ikan lele.
Saat ditelesuri keketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Fajar Hawa yakni Esih Nuraesih selaku penerima bantuan bibit ikan lele.
Ia mengatakan bahwa semula anggotanya yang berjumlah sekitar 25 lebih tersebut. Semua dapat bantuan bibit ikan lele dengan per-anggota dapat 45 bibit ikan lele.
Meski demikian, Esih mengakui bahwa bibit ikan lele yang telah diterima oleh anggotanya tersebut semuanya sudah tidak ada.
Dan bibit ikan lele yang telah diterimanya tersebut tersisa hanya ada pada dirinya.
“Bibit ikan lele itu yang di saya itu sempat berkembang biak jadi 50 ekor. Dan sempat saya pisahkan dikolam dekat samping rumah. Namun sekarang sudah habis dan yang tersisa hanya 5 ekor saja yang tersimpan didalam ember.” Jelas Esih.
Begipula dengan keterangan Oji yang mengaku sebagai pengurus dipeternakan domba. Dan Oji lah satu-satu orang yang bertugas sebagai pencari rumput untuk domba-domba milik desa Tenjolayar tersebut.
Meski demikian meski demikian Oji mengakui bahwa domba-domba tersebut kini tersisa hanya 3 ekor saja 2 ekor jantan dan 1 ekor betina.
Pasalnya menurut Oji, 15 ekor telah telah dijual oleh pihak desa ke salah satu bandar domba orang Jatiwangi.
“Katanya mau ditukar, sebab domba-domba yang kemarin itu kecil terus.Padahal sudah dipelihara hampir 10 bulan.” Terang Oji.
Meski begitu Oji mengaku tidak mengetahui hasil penjualan domba tersebut kapan akan kembali dibelikan ke domba yang baru.
“Dombanya baru dijual kemarin, tapi saya tidak tahu kapan akan dibelikan lagi ke domba yang lebih besar atau domba baru.” Tukas Oji.
Sementara itu menurut ketua LSM Penjara berlogo Kujang kabupaten Majalengka Agung Trihandono mengatakan Jika program ketahanan pangan yang ada didesa tidak bertahan lama. Dan nyaris hanya menghambur-hamburkan uang rakyat saja.
Hal itu menurut Agung jelas bermasalah dan tentunya ada kesalahan pada awal perencanaan program tersebut.
Harusnya kata Agung, tim pelaksana kegiatan desa benar-benar mengkaji baik buruknya suatu program kerja desa jika program itu dilaksanakan.
“Itu kesalahan fatal jika ada program ketahanan pangan tidak berkelanjutan. Dan malah tidak jelas dipertengahan jalan. Berarti tim pelaksananya tidak cermat menghitung baik buruknya program tersebut. Dan program ketahanan pangan didesa Tenjolayar hanya menghambur-hamburkan uang rakyat saja.” Tandas ketua LSM Penjara berlogo kujang kabupaten Majalengka ini, Selasa (2/5/2023).
Selaku aktivis anti korupsi dan pengurus LSM, Agung meminta agar aparat penegak hukum (APH). Untuk segera turun tangan dan memeriksa adanya dugaan kerugian uang negara pada program ketahanan pangan didesa Tenjolayar.
“Kami minta APH segera turun tangan dan memeriksa adanya dugaan kerugian keuangan negara diprogram ketahanan pangan di desa Tenjolayar.” Pinta Agung Trihandono. (Bisri).