Warga Singawada Keluhkan Bahu Menyengat Air Limbah Pemotongan Ayam
Ringsatu.id-Majalengka-Air Limbah yang bersumber dari rumah pemotongan ayam yang berada lingkungan RT 002 RW 007 Blok Sabtu Desa Singawada Kecamatan Rajagaluh Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat. Dikeluhkan oleh warga sekitar rumah pemotongan ayam, demikian disampaikan oleh sejumlah warga yang posisi rumahnya tidak jauh dari lokasi pemotongan ayam tersebut.
Dari keterangan warga mengatakan, sebelumnya air irigasi tersebut banyak dimanfaatkan oleh warga dengan mengalirkan airnya ke kolam (Balong) milik warga. Dengan maksud untuk keperluan sehari-hari seperti untuk mandi, mencuci pakaian, cuci piring bahkan digunakan untuk berwudhu.
“Namun setelah airnya bercampur dengan air limbah dari pemotongan ayam kami jadi ogah memanfaatkannya. Sebab airnya menjadi berminyak dan bau anyir serta bau busuk.” Jelas salah satu warga blok Sabtu yang namanya tidak mau disebutkan ini, Selasa (17/5/2022).
Dikatakannya, jika hanya bau busuk atau anyir yang ditimbulkan dari rumah pemotongan ayam. Menurutnya hal tersebut adalah hal yang wajar karena posisi rumahnya berada tak jauh dari rumah pemotongan ayam.
“Kalau hanya bau anyir dan busuk itu tidak masalah karena baunya tidak lama setelah itu baunya hilang. Dan baunya juga tidak tiap hari, tapi kalau air limbahnya kan mengalir tiap hari. Dan air limbahnya ngalir ke saluran irigasi yang airnya banyak dimanfaatkan oleh kami.”Tuturnya.
Dari keterangan warga blok Sabtu mengatakan, bahwa keberadaan rumah potongan ayam tersebut sudah beroperasi sekitar 3 bulanan.
Warga sekitar pemotongan ayam sendiri sebelumnya mereka mengaku telah dimintai tandatangan oleh ketua RW 07 Urita.
“Mungkin tandatangan itu untuk bukti kami menyutujui adanya tempat pemotongan ayam. Tapi jujur saja kami ada yang tandatangan dan ada juga yang tidak.”Jelasnya.
“Dan kami tidak pernah menerima kompensasi apapun dari pemilik tempat pemotongan ayam itu.”Lanjutnya.
Warga sendiri berharap pemilik tempat pemotongan ayam bisa mencarikan solusi. Agar air limbah dari hasil pemotongan ayam tersebut tidak dialirkan ke irigasi yang airnya banyak dimanfaatkan oleh warga.
Dari hasil pantauan wartawan media ini dan juga keterangan salah satu pegawai ditempat pemotongan ayam tersebut mengatakan. Bahwa air dari pemotongan ayam tidak langsung dialirkan ke irigasi, namun sebelumnya ditampung dulu dibak penampungan yang sebelumnya telah disiapkan oleh pemilik tempat pemotongan ayam.
“Setelah ditampung dibak penampungan barulah air itu dialirkan ke kolam penampungan. Dan setelah itu baru dialirkan ke saluran irigasi jadi air limbahnya tidak langsung dibuang ke saluran irigasi.” Terang pegawai dirumah pemotongan ayam tersebut yang namanya tidak diketahui ini.
Sementara keterangan dari Urita ketua Rw.07 mengatakan, sebelumnya ia tidak pernah mendengar adanya keluhan dari warganya. Terkait air igirasi yang dimanfaatkan warga berbau anyir dan busuk karena tercampur air limbah dari tempat pemotongan ayam.
“Kok saya baru dengar ya ada warga yang mengeluh seperti itu, padahal sebelumnya mereka sudah diajak berkumul sebelum adanya tempat pemotongan ayam itu.”Ujar Urita.
Padahal warga sekitar lokasi tempat pemotongan ayam menurutnya,mereka sudah ikut tandatangan.Yang artinya menurut Urita warga setuju adanya tempat pemotongan ayam tersebut.
Namun ia berjanji jika warga sekitar tempat pemotongan ayam merasa resah disebabkan aroma yang tidak sedap yang ditimbulkan dari pemotongan ayam. Juga air kolam warga tercemar limbah air pemotongan ayam, Urita akan segera berkordinasi dengan pemilik tempat pemotongan ayam.
“Jika ada keluhan seperti itu saya akan segera melaporkan ke pemilik pemotongan ayam”.Tandas ketua Rw.07 ini.
Terkait warganya tidak pernah menerima kompensasi dari pemilik pemotongan ayam. Hal ini dibenarkan oleh Urita, meski demikian ia mengaku bahwa pemilik tempat pemotongan ayam telah memberikan bantuan bibit duren montong bagi warganya.
“Kalau kompensasi berupa uang memang tidak ada, namun pemilik pemotongan ayam memberikan bibit duren montong untuk dibagikan ke warga. Dan jika dirupiahkan bibit duren itu sekitar Rp.2,2 juta.”Ujar Urita.
Hal senada dikatakan kuwu (Kades) Singawada Hj. Neneng Arnengsih yang mengaku dirinya baru mendengar adanya keluhan dari warganya. Yang mengeluhkan air irigasi yang biasa dimanfaatkan warganya tersebut tercemar air limbah dari tempat pemotongan ayam.
Dikatakannya, sebelumnya ia mengaku kedatangan istri dari pemilik tempat pemotongan ayam. Yang akan memberitahukan bahwa diwilayahnya akan dibangun tempat pemotongan ayam. Ia pun mengaku mempersilahkan membangun tempat pemotongan ayam. Namun dengan syarat ada persetujuan dari warga sekitar.
“Setelah itu saya tidak tahu kelanjutannya, namun tiba-tiba pak RW ngasih tahu jika pembangunan tempat pemotongan ayam sudah tahaf finishing.’Tutur kuwu Singawada ini.
Ia pun berjanji akan segera berkordinasi dengan pemilik tempat pemotongan ayam. Terkait keluhan dari warganya tersebut.
“Ya kalau ada keluhan seperti ini saya akan segera berkordinasi dengan pak Rw juga pemilik pemotongan ayam.Agar segera dicarikan solusinya.”Tukasnya.
Sementara itu saat wartawan media ini menyampaikan adanya keluhan dari warga sekitar tempat pemotongan ayam. Yang mengeluhkan terkait aroma yang tidak sedap yang ditimbulkan dari tempat pemotongan ayam. Kepada pemilik pemotongan ayam H. Erik dengan menghubungi melalui pesan singkat ke nomer Whats Appnya (WA), Selasa (17/5/2022).
Namun H. Erik malah balik bertanya dengan mengatakan “warga yang mana ya”.
Setelah dijelaskan yang mengeluhkan warga sekitar tempat pemotongan ayam. H. Erik kembali menjawab bahwa ia akan segera membicaran dengan ketua Rw.(Bisri)