MA Sentot : Putra Indramayu yang Menjadi Simbol Perlawanan dan Keberanian
RINGSATU-INDRAMAYU-Bagi generasi muda saat ini, nama MA Sentot mungkin lebih familiar sebagai nama salah satu rumah sakit di Kabupaten Indramayu. Namun, jika menengok kembali perjalanan sejarah beberapa dekade silam, nama tersebut merupakan simbol perlawanan, ketegasan, dan keberanian seorang pejuang yang turut mengangkat senjata mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sosok tersebut adalah Kolonel (Purn.) Mohammad Asmat Sentot, yang lebih dikenal masyarakat Indramayu dengan sebutan MA Sentot.
MA Sentot lahir di Indramayu pada 17 Agustus 1925. Di tengah pergolakan mempertahankan kemerdekaan, ia dikenal sebagai salah satu pemimpin pasukan yang dijuluki “Pasukan Setan”, pasukan yang bergerak secara gerilya menghadapi kekuatan Belanda.
Dengan persenjataan yang sebagian diperoleh dari hasil rampasan, pasukan yang dipimpin MA Sentot bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Strategi gerilya menjadi bagian penting dalam menghadapi musuh yang memiliki persenjataan dan kekuatan militer lebih besar.
Nama MA Sentot pun tercatat dalam berbagai kisah perjuangan. Ia disebut memimpin langsung sejumlah pertempuran, di antaranya Kaplongan, Siwatu, Gantar, Bangkir, hingga perjuangan di Kalimantan.
Di balik keberaniannya di medan perjuangan, MA Sentot dikenal sebagai sosok yang keras, idealis, dan tidak suka menonjolkan diri.
Bagi dirinya, perjuangan membela tanah air bukanlah sesuatu yang harus dipamerkan atau dijadikan kebanggaan pribadi. Perjuangan tersebut merupakan sebuah kewajiban sebagai bagian dari bangsa yang tengah mempertahankan kemerdekaan.
Setelah mengabdikan diri di dunia militer, MA Sentot memilih pensiun pada 1980. Ia kemudian kembali ke rumah dan menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa.
Ia tidak menjadikan nama besar dan pengalaman militernya sebagai alasan untuk mendapatkan perlakuan istimewa. Bahkan, ia dikenal tidak tertarik memanfaatkan relasi maupun pengaruh yang dimilikinya untuk mengejar jabatan publik.
Pilihan hidup tersebut menjadi gambaran lain dari sosok MA Sentot: seorang pejuang yang setelah selesai menjalankan tugasnya memilih kembali menjadi bagian dari masyarakat tanpa banyak menuntut penghormatan.
MA Sentot mengembuskan napas terakhir pada 6 Oktober 2001, dalam usia 76 tahun. Ia kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Bandung.
Namanya tetap hidup dalam catatan sejarah perjuangan, khususnya bagi masyarakat Indramayu. Bahkan, nama MA Sentot kemudian diabadikan sebagai nama rumah sakit di Kabupaten Indramayu.
Bagi generasi sekarang, kisah MA Sentot bukan sekadar cerita tentang seorang tokoh militer. Lebih dari itu, perjalanan hidupnya menyimpan pesan tentang keberanian, pengabdian, idealisme, serta sikap rendah hati setelah melewati masa perjuangan.
MA Sentot telah pergi, tetapi namanya tetap menjadi bagian dari sejarah Indramayu dan jejak perjuangan bangsa Indonesia. (Tim)