Bupati Indramayu Tolak Uang Koin dari KOMPI, Tegaskan Perbaikan Fasilitas Lebih Tepat

 

RINGSATU-INDRAMAYU-Bupati Indramayu, Lucky Hakim, menolak penyerahan uang koin yang dibawa oleh Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (KOMPI), Senin (06/04/2026) sebagai bentuk tanggung jawab atas kerusakan fasilitas umum pasca aksi unjuk rasa.

Penolakan tersebut disampaikan Lucky Hakim dengan alasan penerimaan uang secara langsung dari pihak luar berpotensi masuk dalam kategori gratifikasi serta tidak sesuai dengan mekanisme resmi pengelolaan keuangan daerah.

“Penerimaan uang secara langsung memiliki risiko secara hukum dan administrasi. Hal ini bisa masuk kategori gratifikasi apabila tidak melalui prosedur yang sah,” tegas Lucky.

Meski demikian, ia tetap mengapresiasi niat baik yang ditunjukkan oleh masyarakat. Menurutnya, bentuk tanggung jawab yang lebih tepat bukanlah menyerahkan uang tunai, melainkan melakukan perbaikan terhadap fasilitas umum yang mengalami kerusakan akibat aksi demonstrasi.

Fasilitas yang menjadi perhatian di antaranya kawasan Alun-Alun Indramayu dan Tugu 0 Kilometer Indramayu.

Baca Juga
1 of 453

“Kalau memang ingin bertanggung jawab, yang paling tepat adalah memperbaiki fasilitas yang rusak, seperti alun-alun dan tugu 0 kilometer, sehingga bisa kembali dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.

Lucky juga mengungkapkan bahwa dirinya telah membuka ruang dialog dengan perwakilan massa untuk membahas berbagai persoalan yang menjadi tuntutan aksi. Namun, ajakan tersebut belum mendapat tindak lanjut dari pihak terkait.

Pemerintah Kabupaten Indramayu, lanjutnya, tetap terbuka dalam menampung aspirasi masyarakat, termasuk terkait isu Proyek Strategis Nasional (PSN) revitalisasi tambak Pantura.

Menurut Lucky, meskipun proyek tersebut berada di bawah kewenangan pemerintah pusat, pemerintah daerah tetap siap menjadi jembatan komunikasi agar aspirasi warga dapat tersampaikan dengan baik.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga situasi tetap kondusif dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan persoalan.

“Kita harus sama-sama menjaga kondusivitas daerah, mengutamakan musyawarah, dan mencari solusi bersama tanpa emosi yang justru dapat memperkeruh keadaan, pungkasnya. (N.Tarigan)

Leave A Reply

Your email address will not be published.