Ringsatu.id-Majalengka-Banyaknya pengaduan terkait penyaluran program Bansos BPNT bagi KPM diwilayah Kecamatan Rajagaluh Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat. Yang masuk ke ketua PAC Pemuda Pancasila (PP) Rajagaluh, Topan Himawan (47) atau biasa disapa Opang. Yang penyalurannya menurut Opang masih carut marut, dan masih ditemukannya berbagai kecurangan. Hal ini menurut Opang harus segera dibenahi.
Terlebih menurut Opang, pola penyaluran BPNT sekarang telah berubah. KPM tidak lagi menerima dalam bentuk paket sembako melainkan uang tunai yang disalurkan melalui kantor POS.
“Namun pada kenyataannya, setelah KPM menerima uang tunai mereka digiring agar uang tersebut diserahkan kepada pemilik e-warong. Yang mirisnya lagi pemilik e-warong sudah stanbay ditempat pencairan BPNT.”Ujar ketua PAC PP kecamatan Rajagaluh ini saat ditemui dikantornya, Sabtu (26/2/2022).
Cara-cara yang dilakukan pihak e-warong dengan menggiring KPM untuk menyerakan uang kepada mereka. Hal ini menurut Opang sudah tidak baik dan tidak etis.
Terlebih menurutnya, sekarang KPM diberikan kebebasan untuk belanja bahan pangan atau sembako diwarung mana saja.
“Aturannya sekarang kan KPM itu dibebaskan untuk berbelanja di mana saja. Tidak mesti di e-warong seperti dulu. Lagi pula yang tahu betul kebutuhan sembako itu ya KPM bukan e-warong.”Jelas pria 47 tahun ini.
Sehingga menurutnya, pihaknya tidak setuju jika ada KPM digiring-giring atau bahkan dipaksa. Agar uang yang diterima KPM diberikan kepada e-warong.
“Kami menghimbau kepada KPM BPNT jika ada oknum yang memaksa agar uang tersebut harus diserahkan ke e-warong. Jangan mau, karena uang itu hak mutlak KPM silahkan belanja kemanapun. Gunakan sesuai kebutuhan dan sesuai aturan dari Pemerintah.”Tegas Opang.
Dikatakannya, selama ini pihaknya sering dapat pengaduan dari warga penerima Bansos BPNT. Dengan keluhan adanya dugaan pengurangan bahan komoditi yang mereka terima.
“Dengan adanya perubahan pola penyaluran BPNT dari sembako ke tunai. Sepertinya bukan malah tambah baik tapi masih carut marut dan tambah parah.”Ujarnya.
Ia mencontohkan, ada sejumlah KPM yang mengadu ke pihaknya. KPM menerima komoditi dari e-warong Rajagaluh Lor tapi timbangannya itu berkurang.
“Seperti daging ayam kurangnya dari satu kilo, telor juga kurang dari satu kilo belum dari komoditi lainnya.”Ucapnya.
Yang lebih mirisnya lagi kata Opang, pada saat KPM sedang melakukan pencairan BPNT. Uang yang telah diterima KPM tersebut diminta oleh e-warong Egis.
“Dan KPM hanya diberikan nota pengambilan sejumlah sembako tanpa ada rincian harganya. Parahnya lagi sembakonya tersebut tidak langsung diterima KPM tapi menunggu esok harinya.”Beber Opang.
“Jadi belanja model apa jika seperti itu, dimana pun ketika kita belanja pastinya kita menerima nota rincian harga. Lha ini orang belanja kok tidak kasih nota rincian harganya. Dan barangnya juga tidak langsung hari itu lagi “Sindir Opang.
Keterangan yang diberikan ketua PAC PP kecamatan Rajagaluh tersebut, dibenarkan oleh sejumlah KPM BPNT diwilayah Rajagaluh Lor.
Bahwa mereka mengakui tidak menerima uang tunai sesuai arahan dari Pemerintah.
Namun uang yang telah diterima KPM diminta oleh pemilik e-warong Egis.
Bahkan salah satu KPM mengakui, uang yang telah diterimanya pada saat pencairan dari POS tersebut diminta oleh salah satu oknum Polisi.
Pencairan BPNT sendiri menurut KPM yakni di Posyandu desa Rajagaluh Lor pada Kamis, (24/2/2022).
“Saat saya terima uang, lalu uang itu diminta oleh salah satu Polisi yang saat itu berada ditempat pencairan BPNT. Saya sempat protes ke Polisi itu tapi uang itu tetap dimintanya lalu diserahkan ke Egis.”Jelas salah satu KPM BPNT berinisial E ini.
Saat ditanyakan siapa oknum Polisi yang meminta uang kepadanya. Dijawabnya bahwa dia tidak mengetahui nama oknum Polisi yang meminta uangnya tersebut.
“Saya tidak tahu namanya pak, tapi kalau saya ke kantornya pasti saya tahu orangnya. Dan tempat pencairan BPNT juga ada Opik yang juga mengarahkan agar uang pencairan BPNT diserahkan ke Egis.”Lanjut E.
Ia sendiri mengaku keberatan dan tidak setuju, jika uang tunai BPNT itu diminta oleh e-warong.
“Yang tahu kebutuhan sembako itukan bukan e-warong tapi kami. Lagi pula uang itu hak kami, tapi kenapa kami dipaksa harus belanja di e warong. Saya selaku KPM BPNT minta keadilan.”Tegas E.
E mengaku setiap menerima paket sembako dari e-warong pasti timbangannya berkurang.
“Selain berkurang timbangannya,jika dihitung paket sembako yang kami terima. Itu tidak sampai Rp.600 ribu paling diperkirakan hanya sekitar Rp.400 ribu sampai Rp.450 ribuan saja. Jelasnya.
Sementara itu, Egis sang pemilik e warong Rajagaluh Lor, saat ditemui dirumahnya, Jumat (25/2/2022). Mengakui jika ia hanya memberikan nota barang kepada KPM. Tanpa adanya rincian harga dari komoditi yang akan diterima KPM BPNT.
“Waktu itu kan masih sibuk karena yang saya uruskan orang banyak. Jadi belum sempat buat rinciannya, tapi rincian harga itu sudah saya berikan. Kepada KPM pada saat mereka ngambil paket sembako. Dan dari sekitar 200 lebih KPM baru sekitar 180 yang sudah melakukan pencairan.”Pungkas Egis.(Bisri).