Pemdes Garawastu Majalengka Luruskan Terkait Isu Anggaran Ternak Sapi

 

Ringsatu-Majalengka-Pemerintahan desa (Pemdes) Garawastu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Menganggap perlu menyampaikan informasi yang meluruskan yang saat ini berseliweran ditengah-tengah masyarakatnya terkait anggaran tenak sapi. Demikian disampaikan kuwu Garawastu, Subhan melalui sekretaris desanya (Sekdes), Jojo Jauharudin, S.Kom.

Menutut Jojo, isu yang berkembang saat ini bahwa anggaran ternak sapi itu tidak jelas. Bahkan ada yang menuduh jika kuwu makan uang hasil dari penjualan sapi. Padahal kata Sekdes Garawastu ini, yang benar bahwa uang hasil penjualan ternak sapi uangnya masih ada.

Hanya saja diakui oleh Jojo, uang hasil penjualan sapi dengan total Rp. 68 juta itu. Kemudian dipinjam oleh kuwu sebesar Rp.20 juta.

Pinjam tersebut menurut Jojo, tidak tanpa alasan namun pinjaman Rp. 20 juta tersebut. Untuk biaya memperbaiki mobil siaga desa yang rusak parah akibat mengalami kecelakaan diwilayah Rajagaluh usai mengantar warga yang sakit ke RS.Mitra Prapatan.

Diakui Jojo, Pemdes Garawastu sebelumnya telah menganggarkan program ketahanan pangan. Melalui program ternak sapi pada tahun anggaran 2022 lalu kurang lebih sebesar Rp.200 juta.

Anggaran tersebut kata Jojo, terbagi untuk pembuatan kandang dan pembelian ternak sapi sebanyak 6 ekor.

“Namun ditengah perjalanan sapi-sapi tersebut terkena penyakit kuku dan mulut (PMK). Dari pada mati tidak jadi uang, akhirnya sapi-sapi itu dijual kembali ke bandarnya yakni pak haji Seno. Hasil penjualan itu terkumpul Rp.68 juta, lalu dipinjam oleh pak kuwu Rp.20 juta untuk biaya perbaikan mobil siaga,”beber Sekdes Garawastu ini, Rabu (19/2/2025).

“Sisa uang penjualan sapi Rp.48 juta itu ada dipak haji Seno dan pak kuwu siap mengembalikan yang Rp.20 juta. Dan jika uang sudah terkumpul dengan jumlah Rp.68 juta akan dibelikan lagi sapi. Jadi tidak benar ada tuduhan pak kuwu makan uang hasil penjualan sapi. Yang benar pak kuwu pinjam uang dari hasil penjualan sapi tapi untuk biaya perbaikan mobil siaga,”tandas pria berkacamata ini.

Peminjaman uang Rp. 20 hasil dari penjualan sapi, hal tersebut kata Jojo dikarenakan saat itu benar-benar urgen.

“Mobil siaga kan kebutuhan warga, kalau tidak di perbaiki bagaimana nasib warga yang sakit. Dan memerlukan pelayanan ke rumah sakit, sedangkan biaya untuk perbaikan mobil siaga saat tidak ada. Sehingga saat itu pak kuwu bernisiatif pinjam uang dari penjualan sapi itu.Karena urgen dan sangat perlu serta mendadak,”tukas Jojo Jauharudin. (Bisri)

Comments (0)
Add Comment