Ringsatu.id-Hingga saat ini, pandemi Covid-19 masih terus berjalan di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia. Banyak cara yang telah dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi penularan virus ini. Salah satu cara yang efektif untuk mengurangi penularan virus Covid-19 adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Virus Covid-19 akan menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang yang rendah, sama seperti jenis virus lainnya. Dari banyaknya kasus orang yang terinfeksi, sebagian besar dari mereka yaitu orang lanjut usia dan orang yeng memiliki penyakit kronis tertentu karena memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah.
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga dapat mengurangi risiko terinfeksinya virus tersebut.
Salah satu alternatif untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh yaitu dengan mengonsumsi vitamin C yang cukup dan teratur sesuai kebutuhan tubuh. Vitamin C telah lama dipercaya mampu meningkatkan kekebalan tubuh, vitamin C juga meningkatkan produksi sitokinin oleh sel darah putih sehingga meningkatkan respons imun. Selama pandemi Covid-19, penggunaan vitamin C, mikronutrien dan penangkal radikal bebas, disarankan sebagai pengobatan nonspesifik untuk infeksi saluran pernapasan virus yang parah (Adam F. Feyaerts, 2020). Secara kimiawi, struktur molekul dari vitamin C memiliki gugus hidroksil yang siap berikatan dengan radikal bebas, benda asing, termasuk virus Covid-19 ini, sehingga risiko tubuh manusia yang terinfeksi akan berkurang.
Secara umum, vitamin C memiliki beberapa manfaat penting bagi tubuh, yaitu meningkatkan kekebalan tubuh dengan meningkatkan kinerja sel natural killer untuk mencari dan membunuh sel kanker atau sel lain yang membahayakan tubuh. Selain itu, vitamin C dapat mendukung kerja neutrofil, sel pertama dari sistem kekebalan tubuh yang merespons dengan cara menyerang bakteri atau virus. Kemudian, manfaat yang lainnya yaitu vitamin C dapat membantu meningkatkan kinerja limfosit dalam melacak virus dan bakteri yang bisa mengancam kesehatan tubuh. Sayangnya, vitamin C merupakan salah satu nutrisi yang tidak bisa diproduksi di dalam tubuh manusia maka perlu diolah dari makanan yang berupa sayuran dan buah-buahan, serta dapat juga dikonsumsi melalui suplemen yang mengandung vitamin C.
Dari manfaat-manfaat yang terdapat dalam vitamin C tersebut, para peneliti mulai melakukan uji coba terhadap vitamin C. Kemudian, didapatkan beberapa penelitian yang telah membuktikan bahwa vitamin C dapat mencegah dan meringankan beberapa jenis infeksi virus, seperti virus herpes simpleks, virus polio, dan influenza (Raul Hiedra et al, 2020). Di Cina, penggunaan vitamin C untuk pengobatan Covid-19 telah menunjukkan hasil yang menjajikan. Pemberian vitamin C dosis tinggi sebagai monoterapi dapat membantu mengurangi peradangan paru-paru dan cedera paru-paru pada Covid-19.
Sejumlah ahli pengobatan klinis Covid-19 di Shanghai menyarankan bahwa dosis tinggi vitamin C dianjurkan untuk mencegah badai sitokin pada pasien dengan gejala ringan atau umum dari Covid-19 (Anis Abobaker, Aboubaker Alzwi, & Alsaheen Hamed A. Alraied, 2020).
Penggunaan vitamin C dosis tinggi telah diterapkan di rumah sakit Cina dan Amerika Serikat untuk merawat pasien rawat inap yang terinfeksi Covid-19. Pada perawatan tersebut menunjukkan hasil klinis yang meningkat dan perbaikan yang signifikan, terlihat dari perbandingan antara pasien yang menerima pengobatan vitamin C dan yang tidak menerima pengobatan. Dalam pemberian pengobatan tersebut, kebutuhan vitamin C yang diberikan berbeda antara pria dewasa dan wanita dewasa. Dosis gram vitamin C diperlukan untuk meningkatkan kadar vitamin C plasma pasien sakit kritis ke tingkat orang sehat biasa (Harri Hemila & Angelique M. E. De Man, 2021). Adapun, dosis aman vitamin C yang dapat dikonsumsi yaitu 2 gr/hari. Dosis yang lebih tinggi dari 2 gr/hari dapat menyebabkan diare, sakit perut, dan mual yang akan sembuh sendiri setelah dosis dikurangi. Ada kekhawatiran bahwa vitamin C dosis tinggi yaitu 10 gr/hari dapat menyebabkan penurunan absorbsi sehingga asupan vitamin C berlebihan yang tidak dimetabolisme akan diekskresikan oleh ginjal, yang kemudian dapat meningkatkan risiko batu ginjal (Anis Abobaker, Aboubaker Alzwi, & Alsaheen Hamed A. Alraied, 2020). Oleh karena itu, vitamin C lebih baik dikonsumsi atas dasar anjuran dokter untuk menghindari kesalahan diagnosis dan sesuai dengan indikasi penyakit.
Pada pasien virus Covid-19 yang mengalami sepsis, yakni respon peradangan yang terjadi ketika tubuh bereaksi berlebihan terhadap infeksi, kadar vitamin C turun secara dramatis. Hal ini menyebabkan kebutuhan asupan vitamin C selama kondisi infeksi meningkat. Melihat hal itu, memang belum diketahui secara pasti kefektifan vitamin C dalam mengatasi virus Covid-19. Akan tetapi, vitamin C memang mendukung sistem kekebalan tubuh sehingga dapat meningkatkan respons imunologi terhadap infeksi virus. Vitamin C juga memiliki efek antioksidan dan antiinflamasi yang kuat yang berfungsi untuk mengurangi kemungkinan kerusakan jaringan tubuh. Vitamin C memiliki profil keamanan yang sangat baik, biaya rendah, dan potensi peningkatan produksi yang cepat. Oleh karena itu, pemberian vitamin C kepada pasien dengan infeksi pernapasan berat, misalnya, Covid-19, tampaknya diperlukan (Anita C. Carr & Sam Rowe, 2020)
Jadi, menurut penulis, salah satu terapi yang baik dan aman dalam penanganan Covid-19 yaitu dengan pemberian vitamin C secara teratur sesuai kebutuhan tubuh. Dengan demikian, diharapkan masyarakat Indonesia tetap menjaga sistem imunitas tubuh, salah satunya dengan cara yaitu mengonsumsi vitamin C sebagai penatalaksanaan yang penting dalam Covid-19. Pemberian vitamin C ini dapat mempercepat perbaikan pada kasus Covid-19, serta dapat menangkal radikal bebas. Di samping itu, masyarakat juga harus tetap menjalankan protokol kesehatan yang lain, seperti mengonsumsi makanan yang bergizi, olahraga secara teratur, istirahat yang cukup, dan menjaga jarak dari keramaian yang dapat menimbulkan penularan Covid-19.
Penulis : Fashihah Salsabilla