RINGSATU-CIREBON-Kedua orangtua Melati yakni DW dan NR warga Desa Getasan Depok Kabupaten Cirebon Jawa Barat. Mengaku geram dan syok begitu mengetahui anak perempuannya yang masih duduk dibangku kelas V SD. Jadi korban kebiadaban oknum operator disalah satu SD Negeri yang berada di desa Bobos Dukupuntang berinisial DE.
Menurut keterangan DW ibu korban mengatakan, peristiwa pelecehan yang menimpa anaknya terseut. Terjadi sekitar awal Juli 2025,dan kasusnya baru dilaporkan ke Polisi tanggal 22 Juli 2025. Dengan bukti surat laporan nomor : STTLP/B/583/VII/2025/SPK/POLRESTA CIREBON POLDA JAWA BARAT.
Terungkapnya kasus dugaan pelecehan yang menimpa Melati sendiri. Setelah adanya bukti chatingan yang tersebar digroup Whatsapp SD. Isi chatingan tersebut DE meminta agar Melati mengirimkan foto tanpa busana ke nomer Whatsapp pelaku.
Namun entah kenapa tiba-tiba chattingan antara DE dengan korban tersebut bisa tersebar di group SD.
Setelah ramai chatting digroup SD, DW selaku ibu Melati mengaku sempat di undang oleh pihak sekolah. Undangan tersebut kata DW guna mengklarifikasi terkait chatingan DE dan Melati.
“Setelah saya diundang oleh pihak sekolah barulah semuanya terungkap. Anak saya bukan saja diminta ngirim foto telanjang oleh DE. Tapi anak saya juga ternyata sudah dicabuli oleh DE sebanyak 2 kali,”ujar DW dengan wajah nangis dan sedih, Senin (25/8/2025).
Setelah mengetahui anaknya jadi korban pelecehan, ke esokannya DW dan suaminya melaporkan DE ke Polresta Cirebon.
“Semua persyaratan yang diminta Polisi unit PPA sudah saya serahkan semua. Termasuk bukti Visum dan hasil Psikologis anak saya sudah saya serahkan ke Polisi,”tandas DW.
Bukti Visum sendiri kata DW, kemaluan Melati mengalami luka robek pada selaput kemaluan anaknya. Yang diduga adanya benda tumpul yang masuk pada kemaluan korban.
“Saya minta pelaku pelecehan terhadap anak saya yakni DE itu dihukum berat. Sebab dia sudah merusak masa depan anak saya,”tegas DW sambil berurai air mata.
Setelah peristiwa pelecehan yang dialami Melati oleh operator sekolah. Kemudian orangtua korban memindahkan Melati ke sekolah dekat rumah orangtua korban yakni ke salah satu SD yang berada di kecamatan Depok.
Sementara menurut pengakuan Melati, ia mengaku dilecehkan oleh DE sebanyak 2 kali. Dan semuanya dilakukan diruangan guru.
Kejadian yang pertama kata Melati, ia diminta datang oleh DE ke sekolah sekitar pukul 14.00 WIB siang.
Setelah korban datang pelaku menyuruh korban ke ruangan guru. Kemudian pelaku memaksa untuk membuka resleting celana panjang yang dipakai korban. Kemudian pelaku meraba-raba kemaluan korban, padahal korban sempat berontak tapi pelaku tetap meksa.
Kemudian peristiwa pelecehan kedua terjadi diruangan yang sama namun diwaktu yang berbeda.
Saat itu korban kembali diminta datang ke sekolah oleh pelaku. Dan korban lagi-lagi menuruti keinginan pelaku dengan kembali datang ke sekolah sekitar pukul 15.00 WIB.
“Kemudian saya dikasih permen oleh DE, setelah itu rok yang saya pakai dipeloroti oleh DE. Kemudian kemaluan dia digesek-gesekin ke kemaluan saya, waktu itu saya dalam keadaan setengah sadar,,”tutur Melati.
Pelaku dugaan pelecehan sendiri saat ini sudah tidak lagi bekerja sebagai operator. Hal tersebut disampaikan Priastuti kepala SD Bobos dan mantan atasan DE.
DE sendiri kata priastuti sudah mengundurkan diri dari tanggal 30 Juli lalu.
Dan dia akan menyampaikan peristiwa yang ia ketahui terkait permasalahan mantan anak buahnya tersebut. Ketika nanti dirinya diminta keterangan oleh Polisi.
“Saya tidak akan menutup-nutupi saya akan sampaikan sesuai apa yang dilihat dan didengar. Tentang peristiwa itu, jika satu saat saya diminta keterangan oleh Polisi,”tandasnya.
Terpisah, kedua orangtua pelaku yakni YO dan NI yang merupakan warga desa Cikalahang. Meyakini jika anaknya tidak melakukan apa yang dituduhkan selama ini.
“Saya yakin anak saya tidak melakukan itu (Pelecehan) karena anak saya berkelakuan baik. Mungkin itu hanya fitnahan saja kepada anak saya”ujar ibu pelaku.
Meski demikian, YO dan NI mengakui jika anaknya sudah 2 kali dipanggil pihak Polresta Cirebon. Terkait pelaporan yang dibuat orangtua Melati yang tidak menerimakan anaknya dilecehkan. (Bisri).