Hadapi Pekerjaan Kritikal di Tengah Laut, Manajemen Kilang Balongan Tegaskan Safety Harga Mati

 

RINGSATU-INDRAMAYU-Menghadapi pekerjaan kritikal di tengah laut, Manajemen Kilang Pertamina Balongan menegaskan aspek keselamatan dan kesehatan kerja atau Health, Safety, Security and Environment (HSSE) menjadi prioritas utama yang tidak boleh ditawar.

Penegasan tersebut disampaikan dalam apel bersama kontraktor pelaksana pekerjaan Change Over SPM 12,5 Meter dengan SPM 165.000 DWT, yang berlangsung di Area Jetty Propylene, Kilang Pertamina Balongan, Jumat (9/10/2026).

Pekerjaan yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026 dengan target penyelesaian selama 12 hari tersebut merupakan pekerjaan berisiko tinggi (high risk), karena dilakukan pada fasilitas lepas pantai.

Rangkaian pekerjaan meliputi proses disconnecting dan connecting sistem penambatan rantai jangkar, pembongkaran serta pemasangan kembali subsea hose atau floating hose, hingga pengujian kebocoran dan commissioning.

Apel tersebut diikuti jajaran manajemen Kilang Pertamina Balongan bersama kontraktor pelaksana, di antaranya PT Pertamina Marine Engineering dan PT Kharisma Sinar Utama. Agenda ini menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh persiapan, prosedur, serta aspek keselamatan telah dijalankan secara matang sebelum pekerjaan dimulai.

Dalam kesempatan tersebut, Group Head of Operation and Manufacturing (GHOM) Kilang Balongan menegaskan bahwa Single Point Mooring (SPM) merupakan salah satu fasilitas vital dalam rantai pasok energi di Kilang Balongan.

Menurutnya, keandalan fasilitas lepas pantai tersebut memiliki peran penting dalam menjamin kelancaran penerimaan crude sekaligus mendukung keberlangsungan pasokan energi nasional.

“Pekerjaan di lepas pantai tingkat risikonya tinggi, mulai dari cuaca, gelombang air laut, pergerakan alat berat, hingga penyelaman bawah air. Saya tegaskan agar aspek HSSE wajib dipatuhi demi kesehatan dan keselamatan kerja tetap terjaga,” tegas GHOM.

Baca Juga
1 of 454

Sementara itu, Executive General Manager (EGM) Kilang Balongan, Yulianto Triwibowo, kembali menekankan bahwa keselamatan bukan sekadar prosedur administratif, melainkan menjadi tanggung jawab seluruh pihak yang terlibat dalam pekerjaan.

“Implementasikan elemen HSSE di lingkungan kerja, pahami dan jalankan secara konsisten program Stop Work Authority (SWA),” tegas Yulianto.

Ia menjelaskan, Stop Work Authority merupakan kewenangan yang dimiliki setiap pekerja maupun mitra kerja atau kontraktor untuk menghentikan pekerjaan apabila ditemukan kondisi atau tindakan yang dinilai tidak aman dan berpotensi menimbulkan kerugian terhadap manusia, lingkungan, aset maupun operasional perusahaan.

Yulianto menegaskan, tidak boleh ada keraguan untuk menghentikan pekerjaan apabila ditemukan kondisi yang membahayakan.

“Kita semua sama. Jika melihat kondisi tidak aman atau tidak sesuai prosedur, hentikan pekerjaan. Alat rusak bisa diganti, tapi jika nyawa melayang tidak akan bisa terganti,” ungkapnya.

Komitmen terhadap keselamatan juga diperkuat melalui penandatanganan komitmen bersama dalam Safety Talk persiapan pekerjaan Change Over SPM 12,5 Meter dengan SPM 165.000 DWT.

Komitmen tersebut mencakup tiga poin utama, yakni mematuhi dan menerapkan kebijakan HSSE, menyukseskan pekerjaan dengan target zero fatality, on quality, on schedule dan on budget, serta menjaga kondusivitas di lingkungan kerja.

Sebagai fasilitas vital, Single Point Mooring (SPM) merupakan sarana apung di tengah laut yang digunakan sebagai titik tambat kapal tanker. Fasilitas tersebut berfungsi mendukung proses penyaluran minyak mentah dari kapal tanker menuju fasilitas pengolahan di kilang.

Dengan tingkat risiko pekerjaan yang tinggi, manajemen memastikan setiap tahapan pekerjaan Change Over SPM dilaksanakan dengan mengedepankan disiplin HSSE. (N.Tarigan)

Leave A Reply

Your email address will not be published.